Determinan Insiden Sindrom Metabolik Menurut Gender
Ratih Oemiati
https://doi.org/10.56014/jphi.v6i20.214
Kata Kunci
Determinant Incidence Metabolic Syndrome Gender GLM Determinan Insiden Sindrom Metabolik Gender GLMAbstrak
Perbedaan gender pada SM berkontribusi pada penyakit kardiovaskuler dan diabetes melitus tipe 2. Prevalensi sindroma metabolik di Asia berkisar antara 10-15%. Sedangkan di Indonesia sebanyak 23,34 % dari total populasi mengalami sindrom metabolik, 26,2 % pada laki-laki dan 21,4 % perempuan. Penelitian di Jakarta sebagai ibu kota dan kota terbesar di Indonesia prevalensi sindroma metabolik sebesar 28,4%. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan determinan SM menurut gender dari variabel bebas sosiodemografi demografi, gaya hidup, dan asupan makanan. Selanjutnya akan dianalisis IMT yang diikuti selama 3 tahun menurut jenis kelamin dengan General ModeL Linier SPSS versi 20. Penelitian ini merupakan sub sample dari penelitian Studi Kohor Faktor Risiko PTM yang dilakukan oleh Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, tahun 2014 di kota Bogor. Sebanyak 1385 data lengkap dianalisis dan didapatkan insiden sebanyak 160 kasus baru (insiden) yang ditemukan pada tahun 2014, dengan rincian 39 laki-laki dan 121 perempuan. Insiden SM tahun 2014 sebesar 11,9%, dimana 3% terjadi pada laki-laki dan 8,9 % terjadi pada perempuan. Terdapat perbedaan kelompok umur pada insiden SM pada laki-laki yang lebih menyasar kelompok yang lebih tua dibandingkan pada perempuan yang lebih muda kelompok umurnya. Pada asupan karbohidrat kedua kelompok gender sama-sama lebih besar pada kategori > 60 % dengan prosentase yang hampir sama, namun pada asupan lemak lebih tinggi pada laki-laki untuk kategori > 25 %. Analisis GLM untuk IMT pada laki-laki dan perempuan berbeda mulainya yang lebih tinggi pada perempuan namun pola peningkatannya sama dari follow up 1 sampai dengan 3.





